Sunday, January 25, 2009

Menari di atas penderitaan orang lain

Seringkali saya bisa tertawa terbahak-bahak begitu hebatnya, namun tak jarang setelah itu tak menyadari akan apa yang terjadi di balik sesuatu yang membuat saya bahagia. Mungkin perenungan akan arti hidup, perlu kembali di segarkan dari otak ku. Setelah sekian lama hanya di isi aktivitas yang sama dan tak menunjukkan diriku sebagai manusia yang kreatif. Pelajaran akan moral dan rasa tanggung-jawab yang dulu sempat di ajarkan di bangku sekolah, tak membuat saya menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa (tak usah jauh-jauh, bagi masyarakat tempat ku tinggal pun tidak).

Hari ini, saya melihat orang yang kurang beruntung. Orang yang mencari nasi dengan berteriak-teriak dengan merdu dulu baru mendapatkan uang. Saya berada tepat disebelahnya, namun lagi-lagi naluri dan moralitas saya tak bergaung untuk sekedar tersenyum pada seniman jalan tersebut. Saya malah asik dan berjoget mengikuti irama dari ipod 80 gigabyte, dengan dentuman bas yang luar biasa membuat orang lupa akan dunia.

Serakah, egois, tak memiliki jiwa sosial, dan segudang sumpah serapah sudah sepatutnya saya dapatkan atas perlakuan tidak berperikemanusiaan yang saya lakukan. Namun saya berpikir, bagaimana dengan Anda yang membaca tulisan ini. Apakah kalian juga melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan? Namun jawaban yang saya terima dari seseorang adalah, "ini bukan urusan mu bung".....



Ronald Fernando Hutasoit

Jakarta, 26 Januari 2009